Suasana hati wanita tiga puluh enam tahun itu sepertinya sedang begitu baik. Wajahnya sumringah, senyuman terus terukir di wajahnya. Ia melenggang tanpa seragam lapas yang selama ini harus terus melekat di tubuhnya. Sebuah tas berisi barang-barang pun ia tenteng di tangan kiri. Di tangan kanan memegang surat pembebasannya. 
Seorang petugas mengeluarkan serentengan kunci lalu membukakan pintu untuk si mantan narapidana. 
“Terima kasih,” ucap si wanita itu. 
“Semoga kau bisa segera berbaur dengan masyarakat, Sri,” jawab si petugas. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan kepada para tahanan yang sudah selesai menjalani masa hukuman. 
Sri melangkah, pandangannya beredar. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Apa? Tidak ada yang menjemputku? Helen? Vena? Ih kalian jahat bangettt! umpat Sri dalam batin. Wajahnya lalu cemberut. Dia mengharapkan sahabat-sahabatnya menyambut kebebasannya. 
“Mbak Sri.” panggil seseorang.
Sri menoleh. Seorang perempuan blasteran berdiri tidak jauh darinya. 
“Eh kamu, Barbie. Lagi ngapain di sini?” 
Belum sampai Barbie menjawab. Tiga unit mobil berdatangan. Yang pertama, mobil Ferrari sport warna putih mengkilap. Di belakangnya sedan keluaran Honda terbaru, lalu terakhir Kijang Innova. Satu per satu keluar dari mobilnya. Helen dari mobil sportnya, lalu Inu dan Vina dari sedang, dan terakhir Adam dan Vena. 
“Heleennn!!” Sri langsung memeluk Helen dengan erat. Air matanya berlinang. Orang yang sangat ingin dilihatnya ketika bebas adalah Helen. Sosok yang membuatnya banyak berubah. Tidak puas sampai di situ, ia menciumi wajah Helen dengan semangat. 
“Kita pasti datang, kok. Mbak Sri adalah bagian dari kita semua,” kata Helen dengan senyumannya yang khas. Dingin tapi menghangatkan. 
“Mbak Sri, kita nggak dipeluk nih? Cuma Kak Helen doang yang dapat jatah?” tanya Inu. 
Sri melepaskan pelukannya pada Helen lalu memeluk mereka satu per satu. Lalu ia kembali menggandeng tangan Helen. 
“Cakep, gue akhirnya bisa bebas dari Sipir Kepala,” kata Sri dengan bahagia. 
“Iya deh, selamat ya, Mbak Sri. Hmm, sebelum Mbak Sri ke mana-mana, Mbak nginep di rumahku aja ya. Udah lama 'kan kita nggak ngumpul-ngumpul,” kata Helen sembari merangkul pundak Mbak Sri. 
“Wah, Kak Helen, aku juga ikutan dong! Mengenang suasana di penjara dulu,” serobot Inu sambil berkedip pada Vina dan keduanya lalu terbahak-bahak. 
“Aku boleh ikutan nggak nih?” tanya Adam yang sehari pun tidak pernah berada di bui bersama para perempuan itu. 
“Boleh dong, Sayang, kamu kan harus jadi suami SIAGA,” jawab Vena lalu mencium bibir suaminya. Maklum, Vena tengah hamil empat bulan. 
“Oke, kalau gitu, sekarang kita jalan-jalan dulu yuk! Keliling kota, Mbak Sri,” kata Helen. 
“Wah boleh nih! Mobil lu keren gini lagi. Mahal pasti dong yaa.” Sri melayangkan pandangannya ke arah mobil Helen yang hanya muat untuk dua orang. Baru bebas dari penjara, ia langsung dimanjakan sebegitu rupa. 
“Aku pindah ke mobil Inu aja,” tukas Barbie yang langsung memahami situasi. 
“Oke, berangkat!” kata Helen memberi aba-aba. Pengusaha muda itu kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Sri. 
“Silakan, Paduka Ratu,” kata Helen dengan tubuh sedikit dibungkukkan. 
“Idih, apaan sih?” protes Sri manja lalu masuk ke dalam mobil. 
Iring-iringan itu pun meninggalkan area lapas menuju pusat kota yang ramai. Helen menekan sebuah tombol hingga atap mobilnya terbuka lebar. 
“Wah, lu emang beruntung banget, Len. Dalam sekejap jadi orang kaya. Dari bule pula. Gue nggak habis pikir ya, si bapaknya Barbie bisa baik gitu sama lu.” 
“Ini cuma titipan, Mbak. Kalau Barbie udah lebih siap, semua ini akan aku serahkan ke dia. Dia lebih pantas menikmati semua ini.” 
“Hadeh, Len. Udah deh. Keluarganya si Barbie di Amerika 'kan juga kaya raya. Semua ini diberikan ke elu buat elu nikmati. Nggak usah peduliin si Barbie lah!” 
“Mbak Sri….” 
“Helen! Kalian itu tinggal serumah, tapi dia nggak pernah menganggap lu ada. Iya ‘kan? Dia itu nggak punya hati, Len! Lu berhenti deh belain dia! Sejak lu pernah pacaran sama dia, lu itu jadi berubah. Sampe sekarang, kalau soal Barbie, lo jadi lembek. Udah jelas-jelas dia nggak menghormati lu. Lu jagain dia sejak bapaknya balik ke Prancis, tapi apa balasan dia? Dua temannya aja bisa menghargai lu, tapi kenapa dia nggak? ” 
Helen menghela napas. “Mbak, sudahlah.” 
Sri mendengus kesal. 

Sri punya keluarga di kota Ngawi, tapi mereka seolah sudah menganggapnya tiada. Sri memang sudah mencoreng nama baik keluarga dengan tertangkapnya ia sebagai bandar narkoba dan dihukum enam tahun dengan potongan satu tahun penjara. Sekalipun ia tidak pernah dikunjungi selama berada di balik jeruji besi. Ketika Helen dan Vina bebas, kedua orang itulah yang rutin mengunjunginya, membawakannya makanan. 
Keesokan harinya, Sri terbangun dari tidurnya. Ia melihat Helen masih tertidur lelap di sampingnya dengan beberapa helai rambut menutupi mukanya. Helen, Helen, apa pun sekarang bisa kamu beli, tapi kenapa kamu nggak pernah mau membeli kebahagiaan? Sri mengecup kening Helen lalu memeluknya. 
“Helen….” 
“Mmm…?” jawab Helen masih dengan mata terpejam. 
“Gue sayang banget sama lu. Gue ngerti perasaan lu. Gue tahu lu cinta Barbie.” 
“Udah bukan zamannya bicara cinta, Mbak,” jawab Helen dengan suaranya yang serak. 
Sri menoyor kepala Helen karena gemas. 
Rumah Helen yang biasanya sepi, hari ini menjadi ramai. Yang biasanya dihuni dua orang, kini bertambah lima kepala. Vina, Vena, dan Adam sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Inu dan Barbie berenang di kolam renang. Helen dan Sri betah di kamar tidur layaknya pengantin baru. Keduanya lalu buru-buru keluar begitu Vena berseru sambil menggedor pintu kamar tidur Helen, “Woy, keluar nggak?! Aku panggilin trantib nih!” 
Sontak, Helen dan Sri segera keluar dari kamar dan menyusul ke kolam renang. Keduanya duduk di gazebo sambil memperhatikan Inu dan Barbie yang berlomba renang. 
“Len, gue udah lama pingin buka usaha konveksi. Gue pingin hidup baik-baik. Syukur-syukur kalau bisa sekalian cepat dapat jodoh,” kata Sri. 
“Gampang, nanti aku kasih modal deh. Aku dan Inu kemarin lagi nyari tanah buat usaha restoran baru, tapi Inu kayaknya nggak begitu suka. Kalau Mbak Sri mau, nanti tanah itu aku beli buat bikin konveksi. Lokasinya lumayan strategis kok.” 
“Kalau laba gue gede, gue bakal segera cicil deh uang lu. Makasih ya, Len. Lu emang baik banget ke siapa aja. Oh ya, Mike apa kabar?” 
“Baik. Seminggu lalu aku ketemu dia di Bangkok. Dia mau menikah lagi, sama orang Indonesia juga katanya.” 
“Hah? Kapan? Kamu diundang?” Sri langsung bersemangat kalau perihal bergosip. 
“Iya, bulan depan di Paris. Mbak ikut ya? Kemarin aku ngajak Barbie, tapi dia bilang lagi ada ujian semester. Setelah ujian baru dia ke sana. Inu sama Vina lagi pada sibuk juga. Vena jelas nggak mungkin gue ajak. Ibu hamil.” 
Sri langsung berbinar-binar. “Lu serius ngajak gue? Serius, Len?” 
“Iya, nggak asyik kali ke Paris sendirian,” jawab Helen dan membuat Sri yang sangat ekspresif memeluk dan mencium sudut bibir Helen dengan spontan. Keduanya tidak menyadari jika Barbie melihat adegan yang cukup intim itu.  
Kehadiran Sri memang membawa suasana baru di rumah mewah tapi penuh keterasingan itu. Ia membuat Helen mulai betah berada di rumah, meskipun sesekali ia memang harus pulang larut malam karena pekerjaannya. Kehadirannya juga membuat Barbie mulai segan pulang dini hari dengan keadaan mabuk, terkadang membawa seorang lelaki.
Suatu hari, Sri tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar Barbie. Si empunya kamar sedang asyik tidur-tiduran sambil membaca materi kuliah di laptopnya. 
Sri mendehem hingga membuat Barbie menoleh. Gadis berusia dua puluh tahun itu memberi isyarat agar Sri masuk dan duduk di dekatnya. 
“Mbak ganggu nggak nih?” tanya Sri memastikan terlebih dahulu. 
“Nggak, Mbak, aku cuma baca-baca bahan kuliah. Oh ya, Mbak, aku dipijet dong. Pegel-pegel nih,” pinta Barbie sambil menujuk punggungnya. 
“Oke, buka bajunya gih.” 
“Hah? Kok pake buka baju?” tanya Barbie kaget. 
“Biar nggak sesak,” jawab Sri dengan santai. 
Barbie pun menurut. 
“Pintunya gue tutup ya?” Sri beranjak. 
“Nggak usah, Mbak. Kak Helen pulangnya larut. Dia juga nggak pernah ke sini kok.” 
“Oke deh, manut aja gue.” 
Sri pun mengeluarkan sebotol minyak khusus dari sakunya. Itu dipakainya saat memijat. Karena ukurannya kecil, jadi mudah dibawa ke mana-mana. Dioleskannya minyak itu ke punggung telanjang Barbie lalu mulai memijatinya. 
“Cowok yang suka datang ke sini pacar kamu ya?” selidik Sri. 
“Iya, baru dua bulan kenal. Dia sepupu jauh Vina. Namanya Anto.” 
“O, satu kampus?” 
“Dia udah kerja di klub malam sebagai DJ. Aku dikenalin sama Vina eh terus sering ngobrol. Dia baik walaupun agak playboy.” 
“Sudah pernah ketemu sama Helen?” tanya Sri makin ingin tahu. 
“Kak Helen 'kan sering pulang malam, Anto kalau ke sini pasti sore, malamnya dia kerja. Kalaupun dia nginep di sini, Kak helen pasti udah tidur. Tapi, Anto tahu Kak Helen kok. Dia bilang pernah ketemu Kak Helen di acara ulang tahun seorang selebritis. Katanya Kak Helen sama cewek cakep bule. Mereka akrab banget. Aku percaya aja. Cewek mana sih yang nggak tertarik sama Kak Helen?” 
“Bule? Ah masa sih? Terus lu nggak pernah nanya langsung ke Helen?” Sri mengerutkan dahi. Masa sih Helen nggak cerita soal yang satu ini ama aku? batin Sri. 
“Aku nggak mau ikut campur urusan pribadi dia, Mbak. Kak Helen itu udah banyak berubah. Aku sering merhatiin dia di gazebo menyendiri, aku pingin ngajak dia ngobrol, tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana. Mbak ingat 'kan, sejak kejadian di tahanan dulu, seperti ada tembok tebal di antara kami.” 
“Itulah Helen. Aku yang kenal dia bertahun-tahun aja sampai sekarang masih menganggap dia misterius. Eh kaki mau sekalian dipijet?” 
“Eh iya, buka celana juga?” 
“Iyalah. Tenang, gue nggak bakal ngapa-ngapain kok.” 
Perempuan asing yang pernah diceritakan Barbie tempo hari datang ke rumah. Dia datang bersama seorang pria berambut pirang berkacamata. Keduanya mengenakan busana kasual, celana jins dan T-shirt. Helen menyambut keduanya dengan baik. Si perempuan bule mencium pipi Helen lalu sedikit mengacak rambutnya yang baru saja dipotong pendek. Sementara yang lelaki menjabat tangan Helen sambil menanyakan kabar dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Helen memperkenalkan Sri kepada keduanya.
"Stefani Rafael."
"Jordan Rafael"
Mereka mengobrol sejenak di ruang tamu hingga kemudian Helen meminta kepada seorang pembantu untuk menghidangkan makan malam. Helen mengundang keduanya makan malam bersama. Sri juga tentunya. 
“Barbie mana?” bisik Helen kepada Sri ketika mereka di dapur dan memastikan semua masakan telah siap dihidangkan di meja makan. 
“Ada di kamar. Lagi belajar biasanya,” jawab Sri lalu ikut dengan Helen menuju meja makan. 
“Tolong ajak dia makan malam bersama kita. Mereka itu keluarga besar Rafael, kerabat Mike. Mbak Sri masih ingat 'kan kalau Mike itu nama aslinya Henry Rafael? Sebelum Mike kembali ke Prancis, dia memperkenalkan aku pada beberapa kerabatnya yang membuka perusahaan di Asia. Ada lima belas Rafael, termasuk Stef dan Jordan. Aku dan Stef cukup sering ketemu karena dia ngajak aku di salah satu projek di Bandung.”
"Lu pacarin si Stefani itu dan lu nggak ngomong ke gue?" tanya Sri galak.
"Aku nggak pacaran sama Stef. Murni bisnis, Mbak. Gosip dari mana sih?" 
“Oh ya udah, Gue percaya sama lu. Bentar gue panggilin si Barbie." 
Sri segera menemui Barbie di kamarnya. 
Acara makan malam itu menjadi ajang bagi Barbie untuk mengenal saudara-saudara jauh ayahnya. Sementara, Sri begitu kagum karena Helen begitu mudah berbaur dengan keluarga Barbie sementara Barbie tampak canggung. 
“Stef, kita jadi berangkat bareng ke pernikahan Mike, 'kan? Kau juga bisa datang 'kan, Jordan?” 
“Yup, aku udah mengatur jadwal supaya kita semua bisa ke sana. Kita berangkat naik jetku saja. Jordan udah oke. Kamu udah oke. Sri ikut ya? Barbie?” tanya Stef sambil menyalakan rokoknya. 
Barbie mengangkat bahu dengan malas. Helen menatapnya lalu menatap Sri. Sri mengangkat bahu. 
Helen mengantar tamunya hingga ke pintu keluar. Barbie langsung menuju kamarnya dan kembali menekuri laptopnya di atas tempat tidur. Tidak beberapa lama, Sri masuk dan menghampirinya. 
“Kenapa sikap lu pada Helen seperti ini? Dia pernah salah apa?” 
“Mbak mengharapkan apa? Aku sama Kak Helen seperti waktu di penjara dulu? Deket kayak si Stef sama Kak Helen? Itu nggak mungkin, Mbak. Aku udah kecewa banget sama dia. Aku nggak bisa maafin dia. Dan lihat Kak Helen, apa dia pernah terbuka soal perasaannya. Nggak pernah!” 
“Barbie, Helen itu sayang sama elu. Jangan menunggu ucapan itu dari dia, tapi lihat bagaimana dia menjaga elu. Dia begitu peduli sama elu. Dia dekat sama Inu karena ingin tahu bagaimana elu di kampus. Dia dekat dengan kerabat ayah lu karena lu juga bagian dari keluarga besar Rafael yang kaya raya itu. Elu yang suatu hari nanti akan memegang apa yang sekarang dipegang Helen. Kalau dia hanya memikirkan dirinya sendiri, mana mau dia melakukan semua itu?” 
“Mbak Sri….” Barbie mulai jengah dinasihati. 
“Gue hanya meminta lu sedikit lunak pada Helen. Tolong, Barbie. Gue rasa itu tidaklah sulit.” 
Sri melihat ke arah pintu. Helen melintas dan melihat ke arahnya. Senyuman dingin terukir di sudut bibir Helen sebelum ia berlalu. Sri membelai rambut Barbie yang lurus seperti rambut ayahnya. Dia teringat dengan percakapan antara dirinya dengan Helen tidak lama setelah kedatangan Mike ke penjara dan memicu hancurnya hubungan antara Helen dan Barbie

“Katakan, Len, katakan,” paksa Sri sambil mencengkeram pundak sang sahabat. 
“Aku sudah membuat satu kesalahan, Mbak Sri,” jawab Helen dengan kepala tertunduk. Mereka berada di kamar mandi yang kebetulan kosong. 
“Apa yang lu anggap salah? Kenapa lu begitu menyesalinya?” tanya Sri lalu mendekatkan tubuhnya pada Helen yang bersandar di tembok. “Bisikkan pada gue, Len.” 
“Aku mencintainya. Tapi aku mencintai orang yang salah. Dia putri Mike. Aku tidak ingin kehilangan Barbie. Aku janji, jika suatu saat nanti aku sudah bebas, aku akan menjaganya. Apa pun itu caranya. Karena hanya dengan itulah aku membuktikan perasaanku.” 

Sri memeluk Helen, kepalanya bersandar di bahu Helen. Itulah pengakuan cinta Helen yang akan selalu Sri ingat di dalam hatinya. Cinta itu ada, hanya sulit untuk mengungkapkannya.

Yogyakarta, 26 Mei 2012
 
Top