Yes or No

Gue lagi seneng-senengnya sama Korea, gara-gara nonton City Hunter yang ada Lee Min Ho tuh. Tapi bukan berarti gue tiba-tiba memburu semua drama Korea. Nah tadi malam, gue iseng searching seputar korea, nggak cuma drama tapi musiknya juga.
Eh pas lagi asyik-asyiknya browsing, gue ngeliat poster film. Judulnya Yes or No. Gue pikir drama Korea nih, ternyata bukan. Ini adalah sebuah film buatan Thailand produksi tahun 2010. Di posternya tertulis "friendship of lover" di bawah gambar dua belia yang manis-manis, sekilas mirip The Virgin. Kalau nggak tahu band The Virgin, googlinglah sana.
Gue langsung mengernyitkan dahi. Ini pasti film cinta terlarang nih.
Gue langsung menuju Youtube untuk mencari jawabnya. Gue cari film ini, entah trailernya atau apalah, setidaknya jadi petunjuk kalau dugaan gue bener. Ada banyak video yang terkait dengan film ini, gue pilih salah satu yang kira-kira sesuai dengan yang gue cari. Terus gue play.
Nah lho kan bener. Berhubung penasaran sama ceritanya, gue pun nyari sinopsisnya. Dapet. Oh ternyata cinta yang tumbuh dalam satu kamar asrama.
Menurut gue sih, dari alurnya biasa banget, ada cewek yang benci ngeliat TOM, setara dengan cewek tomboy yang laki banget. Ada nyebut buci atau apalah itu. Oh ya nama si cewek itu Pie (manis sih kayak Kue Amerika *ups). Dia itu tipe cewek heteroseks yang seperti cewek kebanyakan. Nggak dijelasin sih kenapa dia ga suka cewek TOM dan DII (konon di Indonesia sebutannya femme, kebalikan buci. Nggak paham? Derita loe deh). Intinya, Pie adalah homophobia.
Pie yang sebelumnya sekamar sama Jane (dia ini DII) minta pindah kamar. Ternyata, teman sekamarnya adalah Kim yang kalau lagi jalan, dari belakang, atau lagi nggak ngomong itu sangat sangat sangat mirip cowok. Ya walaupun fisik (termasuk kulit yang halus) nggak bisa menipu ya bo'. Dan Pie yang tahu siapa teman sekamarnya, langsung minta pindah. Pihak asrama tidak mengizinkan karena Pie ini sering banget pindah kamar.
Aura dramatis film ini mulai coba dibangun mulai dari adegan Pie memberi batas teritorial di dalam kamar. Takut diperkosa kali doski. Tapi dari adegan ini, kita udah bisa nebak bahwa pasti garis itu akan dilanggar juga. Inilah yang gue bilang jalan ceritanya dari awal sudah bisa ditebak. Endingnya juga. Tapi sebagai penonton yang baik, gue terusin aja nontonnya, siapa tahu ada kejutan di dalamnya. Ternyata nggak ada. Kalau dibandingi beberapa film bertipe sama, ya nggak jauh beda dengan Lost and delirious atau Loving Annabelle.
Kalau soal akting, menurut gue juga biasa aja. Si Pie (diperankan Sucharat Manaying) di dalam ini karakternya bisa gue bilang, nggak begitu kuat. Cuma sebagai cewek dari kalangan atas yang punya cowok, terus tiba-tiba berubah orientasi seksual. Sementara Kim (Suppanat “Tina” Jittaleela), tipikal cewek tomboy yang miskin ekspresi, kalau nggak senyum ya nggak senyum (apa sih ah). Dia awalnya nggak tahu apa yang dimaksud TOM. Terus dia suka dengan Pie dan selanjutnya pacaran diam-diam.
Yang gue tangkap dari film ini adalah bagaimana sulitnya sepasang kekasih sejenis untuk menjadi hubungan, meskipun Thailand adalah negara yang bisa dibilang bebas. Di Amerika pun menurut gue sama meskipun di sana untuk urusan pernikahan sesama jenis sudah diberi lampu hijau oleh pemerintah.
Hm mungkin gue yang berekspektasi terlalu tinggi apa gimana sehingga mengharapkan Yes or No bisa menawarkan kekuatan cerita yang lebih dari kisah remaja yang jatuh cinta dan itu nggak gue temukan. Sorry to say.

Baca juga review film Yes or No 2

Lihat trailernya:


Nonton full version:



0 comments: