Search This Blog

Loading...

Follow by Email

Total Pageviews

1 Perempuan 14 Laki-laki

Posted by lubisstone.com

Buku ini gue beli ketika iseng tanggal 21 Februari 2012 jalan-jalan ke Toga Mas. Iseng dalam arti emang nggak niat beli buku. Maklumlah, akhir-akhir ini bisa aja gue beli buku tapi bacanya cuma setengah, padahal itu buku terbitan Gramedia yang tipis, harganya mahal dan diskonnya dikit.

Tapi ada alasan kenapa gue beli buku ini, Karena gue penasaran, ini sebenarnya buku apa sih? Yang pasti ini melibatkan penulis Djenar Maesa Ayu. Alhasil ketika gue lewat di rak yang memajang buku ini, gue ambil deh. Gue baca back covernya. Oooh ternyata sebuah kumpulan cerpen kolaborasi Djenar Maesa Ayu dengan 14 laki-laki yanng pada umumnya bukan penulis. Maksudnya bukan seperti Djenar yang sudah berkecimpung lama dalam dunia penulisan. Para lelaki yang ikut berkolaborasi dan bukan seorang penulis adalah Enrico Soekarno, Lukman Sardi, Butet Kartaredjasa, JRX (personel Superman is Dead), dan masih ada lainnya (eh ada nggak ya?)

Karena ada 14 laki-laki maka ada 14 cerita dalam buku ini. Gue sih penasaran, seperti apa coba cerpen yang ditulis oleh dua orang (baru mulai membayangkan setelah membaca pengantar penulis seputar proses penulisan).
Bagi seorang pencinta sastra mungkin akan suka dengan buku ini. Hm, kalau gue bilang gue nggak begitu suka, apa berarti gue tidak bisa menikmati sastra? Hoho, tunggu dulu, Bung, selera itu nggak bisa dipaksakan.
Dari cerita pertama, gue udah bisa menebak seperti apa cerita-cerita selanjutnya, pasti berhubungan dengan seks dan minuman keras. Dan terbukti benar. Sejak dulu, karya-karya Djenar Maesa Ayu memang identik dengan dua hal tersebut. Nah, itulah sebabnya gue bilang gue nggak begitu suka dengan karya terbaru kerabat Aksan Sjuman ini.
Di cerita berikutnya, tangan Indra Herlambanglah yang menjadi partner menulis Djenar. Temanya balik lagi nih ke seks. Cerita selanjutnya, masih sama. Tapi, buat orang yang pengen nambah referensi kosakata, di sini bisa nemuin banyak kosakata, mulai dari yang sopan sampai yang vulgar.
Ketika gue berpindah ke cerita kedua, yang ditulis bersama seniman Enrico Soekarno, gue memang menemukan cerita yang tidak terkait dengan dua hal itu, tapi lebih ke simbol agama. Nah lo. Baca deh karena gue males menjelaskannya. Dibahas sekilas rasanya udah cukup kan.
Selain itu, di buku setebal 124 halaman tersebut, bisa diambil satu poin bahwa siapa pun bisa menulis, ya nulis apa aja. Apa sih susahnya menulis? Kan dari SD udah diajarin menulis bukan? Nah, jadi kayaknya pertanyaan "Gimana sih biar bisa nulis" nggak perlu terlontar dari mulut siapa pun. Setuju ya?

Related Post



Post a Comment

About Me

My Photo

Mulai menyukai dunia menulis semenjak usianya masih belasan, mulai senang menulis fiksi dengan melibatkan tokoh-tokoh LGBT (lesbian, gay, bisexual, transexual/transgender) semenjak mahasiswa hingga sekarang, dengan mulai memilih spesifik pada kehidupan lesbian; mengambil referensi mulai dari pengalaman teman-temannya, buku, hingga film. Pernah terlibat dalam Q! Film Festival 2007 Yogyakarta sebagai project coordinator; cerita pendeknya masuk dalam antologi Pelangi Perempuan (Institut Pelangi Perempuan, 2008) dan Di Balik Kaca (Lontar, 2010). Masih menulis cerita fiksi hingga sekarang, di sela-sela kesibukannya sebagai orang kantoran dan solo taveler.